Hagia Sophia dalam Catatan Sejarah
Hagia Sophia dalam Catatan Sejarah
Oleh: Rahman Abdullah
Turki, saat ini merupakan Negara yang wilayahnya terbentang dari semenanjung Anatolia di Asia Barat Daya dan Daerah Balkan di Eropa Tenggara. Negara tersebut merupakan kelanjutan dari Kesultanan Turki Ustmani yang telah berkuasa kurang lebih 6 abad di sana. Negara Republik Turki yang beribukota di Ankara dan dideklarasikan sejak tahun 1923, kini berpenduduk lebih dari 77 juta jiwa. Turki dikenal sebagai negara transkontinental atau negara yang berada di antara dua benua, yaitu Eropa dan Asia.
Akhir-akhir ini Turki sedang menjadi perhatian dunia, setelah mengeluarkan keputusan tentang bangunan bersejarah, yaitu Hagia Sophia atau dalam dialek Turki di sebut Aya Sophia yang memiliki arti “kebijaksanaan suci” akan difungsikan kembali menjadi masjid setelah selama 86 tahun menjadi museum yang sering didatangi oleh wisatawan ketika berada di kota Istanbul, Turki.
Dalam sejarahnya, Hagia Sophia dibangun pada tahun 532-537 M atas perintah dari Kaisar Romawi Timur Yustinianus I, setelah sebelumnya Basilika pertama dan kedua hancur ditempat yang sama. Bangunan Hagia Sophia yang sekarang ini, pada awalnya merupakan Katedral Ortodoks dan tempat bagi Patriark Ekumenis Konstantinopel, bangunan tersebut dirancang oleh arsitek dari Yunani, yaitu Isidore dari Miletus dan Athenius dari Tralles yang ditunjuk langsung oleh Kaisar Yustinianus I. Hagia Sophia sejak awal berdiri hingga tahun 1453 M, merupakan gereja atau Katedral Ortodoks Kekaisaran Romawi Timur atau Bizantium, kecuali pada tahun 1204 sampai 1261 M, ketika itu Konstantinopel diduduki oleh Pasukan Salib dari Eropa dan Hagia Sophia diubah menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kekuasaan Kekaisaran Latin yang dipimpin oleh Balduinus I atau Baldwin I. Walau sempat diduduki oleh Pasukan Salib, pada tahun 1261 M, Bizantium berhasil mengusir Pasukan Salib dan menguasai kembali Konstantinopel serta mengubah kembali Hagia Sophia menjadi Gereja Ortodoks.
Pada perkembangan selanjutnya, Kota Konstantinopel yang merupakan ibukota Kerajaan Bizantium dan kota tempat Hagia Sophia berada, berhasil ditaklukkan oleh Kesultanan Turki Ustmani di bawah pimpinan Sultan Mehmed II atau yang terkenal dengan sebutan Muhammad Al-Fatih pada tanggal 29 Mei 1453 M.
“Dengan jatuhnya Kota Konstantinopel ke tangan Turki Ustmani, kemudian kota tersebut diubah namanya menjadi Istanbul yang berarti kota Islam dan dijadikan sebagai ibukota Kesultanan Turki Ustmani. Sebenarnya upaya penaklukkan Konstantinopel telah dilakukan oleh penguasa-penguasa Islam sebelumnya, sejak zaman Khulafaurrasyidin kemudian masa Bani Umayah dan Abbasiyah, namun semua itu belum berhasil untuk menaklukkan Konstantinopel. Baru kemudian pada abad ke-15 M, Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan kota tersebut, tentunya dengan usaha yang besar dan melewati pertempuran yang hebat. Hampir dua bulan sejak tanggal 6 April sampai 29 Mei 1453 M, Kota Konstantinopel baru bisa ditaklukkan. Setelah penaklukkan tersebut Hagia Sophia diubah menjadi Masjid, berbagai lambang Kristen seperti lonceng, lukisan dan mozaik ditutupi oleh kain. Kemudian atribut keislaman seperti mimbar, mihrab dan menara ditambahkan. Walupun demikian, keberadaan Gereja Kristen Ortodoks tetap diakui dan Ustmani memberikan kebebasan untuk mengatur urusan agama non-Islam kepada penganutnya masing-masing. Lalu diketahui Genadius Scholarius ditetapkan sebagai Patriark Konstantinopel pertama pada masa Turki Ustmani. Kemudian pada tanggal 1 Juni 1453 M, Hagia Sophia menyelenggarakan shalat jum’at untuk pertama kalinya dalam sejarah.” ( Rahman A, S. Hum, M. Pd )
Pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 1922 M Kesultanan Turki Ustmani resmi berakhir dan Negara Turki berubah menjadi republik sekuler di bawah pimpinan Mustafa Kemal Attaturk. Pada masa tersebut Hagia Sophia megalami perubahan fungsi, dari masjid menjadi museum, tepatnya dimulai sejak tahun 1935 M.
Setelah sekian lama menjadi museum, pada saat sekarang ini muncul wacana untuk mengembalikan Hagia Sophia menjadi Masjid. Tentunya hal tersebut menimbulkan pro-kontra di tengah-tengah masyarakat dunia. Walau demikian, pemerintah Turki di bawah Presiden Erdogan tetap pada pendiriannya yaitu akan memfungsikan kembali Hagia Sophia menjadi masjid.
Ahkirnya pada tanggal 10 Juli 2020, pengadilan Turki membatalkan keputusan tahun 1943 yang menyatakan Hagia Sophia beralih status menjadi museum. Dengan dikeluakannya keputusan tersebut, Presiden Turki Erdogan mengeluarkan dekrit yang berisi “Hagia Sophia kembali ke fungsinya semula sebagai tempat ibadah Umat Islam, ibadah pertama bisa dilakukan mulai 24 Juli”. Dan pada tanggal 24 Juli 2020 dilakukan shalat jum’at yang pertama kalinya di Hagia Sophia setelah 86 tahun lamanya dijadikan museum oleh pemerintahan Republik Turki.
Referensi:
Aizid, Rizem. 2015. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap (Periode Klasik, Pertengahan, Modern). Yogyakarta: Diva Press.
Encyclopedia Britannica Online, Eastern Orthodoxy.
Hillenbrand, Carole. 1999. The Crusade: Islamic Perspectives. Edinburgh: Edinburgh University Press.
Magdalino, Paul, et.al. “Istanbul: Buildings, Hagia Sophia” in Grove Art Online. Oxford Art Online.
“Turkey Turns Iconic Istanbul Museum into Mosque”. BBC News: 10 Juli 2020.
Bang Aman, Ciamis, 5 Agustus 2020

Tidak ada komentar untuk "Hagia Sophia dalam Catatan Sejarah"
Posting Komentar